Cart

Shop

MAKAN SEHAT TANPA BIAYA: Panduan Gizi Gratis Untuk Hidup Berkualitas
MAKAN SEHAT TANPA BIAYA: Panduan Gizi Gratis Untuk Hidup Berkualitas

MAKAN SEHAT TANPA BIAYA: Panduan Gizi Gratis Untuk Hidup Berkualitas

Buku ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak akan pemahaman dan strategi untuk menjalani hidup sehat tanpa harus terbebani oleh biaya tinggi. Makan Sehat Tanpa Biaya: Panduan Gizi Gratis untuk Hidup Berkualitas menawarkan pendekatan yang realistis, berbasis potensi lokal, dan berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Disusun secara sistematis dan berbasis fakta, buku ini mengawali pembahasan dengan konsep dasar gizi, menjelaskan pentingnya zat gizi makro dan mikro dalam kehidupan sehari-hari serta konsekuensi dari kekurangan gizi. Bab ini juga mengupas tantangan akses pangan sehat, khususnya bagi kelompok ekonomi lemah dan masyarakat di wilayah marginal. Selanjutnya, pembaca dibimbing untuk mengenali dan mengoptimalkan pangan lokal, seperti umbi-umbian, sayuran liar, daun-daunan, dan sumber protein nabati yang murah namun tinggi kandungan gizi. Pemanfaatan pangan lokal tidak hanya menjadi solusi praktis, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional dan kelestarian lingkungan. Pada bagian ketiga, buku ini menyajikan strategi menyusun menu sehat dan murah. Dilengkapi dengan contoh menu harian dan panduan praktis, pembaca diajak untuk mengatur pola makan seimbang tanpa harus bergantung pada produk mahal atau makanan instan. Pendekatan ini memadukan pengetahuan gizi, kreativitas dapur, dan manajemen belanja yang cerdas. Bab selanjutnya menyoroti praktik kemandirian pangan dan gizi dalam komunitas. Buku ini memberikan contoh konkret dari berbagai inisiatif masyarakat, seperti kebun pangan rumah tangga, dapur umum berbasis swadaya, dan program bank makanan, yang telah berhasil mendukung pemenuhan gizi tanpa biaya tambahan yang membebani. Akhirnya, buku ini menekankan pentingnya peran multisektor—melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, LSM, dan masyarakat luas—dalam mewujudkan sistem pangan yang inklusif dan gizi yang dapat diakses oleh semua kalangan. Kolaborasi lintas sektor dinilai sebagai kunci dalam menciptakan perubahan struktural menuju keadilan pangan dan kesehatan masyarakat. Makan Sehat Tanpa Biaya bukan hanya buku panduan, tetapi juga seruan moral untuk membangun kesadaran kolektif bahwa hidup sehat adalah hak semua orang. Buku ini cocok dibaca oleh masyarakat umum, penggerak komunitas, mahasiswa gizi dan kesehatan, hingga pembuat kebijakan yang peduli terhadap isu ketahanan pangan dan keadilan sosial. Dengan gaya bahasa yang lugas dan data yang akurat, buku ini menjadi rujukan penting di tengah krisis gizi dan meningkatnya biaya hidup. Karena sejatinya, makan sehat tidak harus mahal, dan kualitas hidup yang baik seharusnya dapat dijangkau oleh setiap lapisan masyarakat.
Pendidikan Agama dan Multikulturalisme di Perguruan Tinggi

Pendidikan Agama dan Multikulturalisme di Perguruan Tinggi

Buku Pendidikan Agama dan Multikulturalisme di Perguruan Tinggi membahas pentingnya integrasi antara pendidikan agama dan nilai-nilai multikultural dalam membentuk karakter mahasiswa yang religius, toleran, dan berakhlak mulia. Disusun oleh para akademisi dari berbagai latar belakang, buku ini menjadi jawaban atas tantangan globalisasi, radikalisme, serta krisis moral di lingkungan kampus. Pada bagian awal, penulis menyoroti urgensi pendidikan agama sebagai instrumen pembentuk kepribadian mahasiswa yang seimbang secara intelektual dan spiritual. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan ajaran keimanan, tetapi juga menanamkan toleransi dan etika sosial dalam kehidupan kampus yang plural. Selanjutnya, buku mengupas konsep multikulturalisme sebagai pendekatan untuk mengelola keberagaman budaya, etnis, dan agama. Ditekankan bahwa multikulturalisme bukan hanya tentang toleransi, melainkan juga keadilan, pengakuan, dan partisipasi setara dalam masyarakat. Buku ini juga menjelaskan bahwa agama mengandung nilai-nilai universal seperti keadilan, kasih sayang, dan kejujuran—yang sangat relevan dalam membangun masyarakat inklusif. Pendidikan agama di perguruan tinggi harus bersifat kontekstual dan dialogis agar dapat menjawab persoalan aktual mahasiswa. Akhirnya, sinergi antara kurikulum, metode pembelajaran, peran dosen, dan dukungan institusi menjadi kunci menciptakan kampus sebagai ruang moderasi beragama. Buku ini menjadi rujukan penting bagi akademisi dan pendidik dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang inklusif dan humanis.
Pengguron Sunan Gunung Jati Abad 15–16 M : Napak Tilas Diakronik UINSSC
Pengguron Sunan Gunung Jati Abad 15–16 M : Napak Tilas Diakronik UINSSC

Pengguron Sunan Gunung Jati Abad 15–16 M : Napak Tilas Diakronik UINSSC

Pengguron di Cirebon telah ada sebelum Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dilahirkan 1448 M.. Berdirinya Pengguron di Cirebon berawal dari kedatangan Syekh Hasanuddin dari Makkah 1418 M Syekh Nurjati dari Baghdad 1420 M., Walang Sungsang 1423 M., Rara Santang 1426 M (Ibunda Syarif Hidayatullah), dan Kian Santang 1428 M.,  dari Pajajaran dan bermukim di Grage (negarae wong gede) Cirebon. Pengguron, sebuah pendidikan Islam abad pertengahan, memiliki indikator spesial, dan elemen-elemen pengguron meliputi tajug, murid, rama guru, baiat, dan witana. Buku ini menelusuri tentang latar belakang munculnya Pengguron Sunan Gunung Jati, karakteristik Pengguron Sunan Gunung Jati, peranan pendidikan dan sosial politik Pengguron Sunan Gunung Jati dalam kehidupan umat Islam pada abad XV-XVI M., dan kedudukan Tarekat Syatariyah di Pengguron Sunan Gunung Jati. Mudah-mudahan buku ini dapat memotivasi penulis-penulis baru tentang Cirebon, berdasarkan aspek akademisnya masing-masing.
Bunga Rampai Wisuda Sarjana: Mewujudkan Sumberdaya Manusia Yang Unggul, Mandiri, Profesional, dan Berdaya Saing
Bunga Rampai Wisuda Sarjana: Mewujudkan Sumberdaya Manusia Yang Unggul, Mandiri, Profesional, dan Berdaya Saing

Bunga Rampai Wisuda Sarjana: Mewujudkan Sumberdaya Manusia Yang Unggul, Mandiri, Profesional, dan Berdaya Saing

Buku Bunga Rampai Wisuda Sarjana merupakan tulisan tentang pesan moral bagi siapa saja yang telah memperoleh gelar sarjana di lembaga pendidikan tinggi. Gelar akademik yang diperoleh oleh mereka yang di didik dengan sejumlah langkah agar mereka bukan saja mampu hadir dalam perubahan, tetapi menjadi aktor-aktor utama perubahan yang berbasis pada budaya ilmiah. Hal ini menjadi penting sebab, satu-satunya yang pasti di alam ini adalah perubahan. Tentu, lembaga pendidikan, dalam hal ini Perguruan Tinggi, patut dianggap gagal, jika lulusannya tidak memiliki kesanggupan untuk ikut dan berperan serta dalam perubahan. Tanpa kesanggupan melakukan perubahan, dengan sendirinya tidak mungkin dapat meneruskan kehidupan, dan pasti akan tergilas zaman yang terus berubah. Para sarjana yang dilahirkan oleh pendidikan tinggi, harus mampu menjadi agen-agen perubahan di tengah segenap dinamika ilmiah yang sangat dinamik di lingkup masyarakat global. Manusia yang pernah belajar dengan mereka yang tidak pernah belajar tentu berbeda. Para sarjana telah membuat perbedaaan dengan sendirinya terhadap manusia lainnya. Setidaknya, mereka telah menjadi bagian dari 8,79 persen penduduk Indonesia yang memiliki gelar sarjana. Para sarjana menjadi demikian istimewa karena tidak semua orang bisa menikmati bangku perguruan tinggi. Hal lain, tentu, karena mereka dididik oleh dosen dengan gelar akademik yang sangat kredible dan terpercaya. Tenaga pendidik yang memiliki komitmen dan dedikasi yang kuat untuk melakukan perubahan dan pembenahan pendidikan. Teori pendidikan mengharuskan adanya SDM dan komitmennya untuk pengembangan manusia unggul. Oleh karenanya, momentum wisuda dan gelar sarjana menjadi kehormatan ilmiah yang hanya dapat dinilai oleh mereka yang memiliki pengalaman ilmiah.
Langkah Praktis Menyusun Proposal Penelitian
Langkah Praktis Menyusun Proposal Penelitian

Langkah Praktis Menyusun Proposal Penelitian

Buku ini akan membahas langkah-langkah praktis dalam menyusun proposal penelitian, khususnya dalam penelitian pendidikan. Pembahasan dalam buku ini disajikan secara sistematis, terdiri dari: Pertama, merumuskan judul penelitian. Judul merupakan sesuatu yang penting di dalam penulisan karya ilmiah. Judul harus dapat menggambarkan isi dari karya ilmiah yang dibuat. Dengan memahami masalah dan novelty penelitian, akan mampu mengembangkan judul penelitian dengan baik, yang didalamnya memuat masalah penelitian yang baik, serta memiliki nilai kebaruan yang akan menambah kebermanfaatan dari penelitian yang dilakukan. Kedua, pendekatan dalam penelitian pendidikan. Sebelum mempersiapkan langkah pengumpulan data, terlebih dahulu harus mengetahui pendekatan dari penelitian yang akan dilakukan. Hal ini agar langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan sesuai dengan prosedur dari pendekatan penelitian yang dipilih. Ketiga, pertanyaan dan hipotesis penelitian. Pertanyaan penelitian bisa dikatakan sebagai cara peneliti untuk mencari Solusi atas masalah yang dia ungkapkan. Jawaban atas pertanyaan itulah diharapkan akan menjawab masalah yang diungkapkan peneliti. Pertanyaan penelitian ini sangat erat kaitannya dengan hipotesis penelitian. Hipotesis merupakan salah satu bagian penting dalam penelitian. Hipotesis ini merupakan dugaan cerdas tentang jawaban dari pertanyaan penelitian yang diajukan. Untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian, hipotesis perlu dikembangkan dengan cara yang baik dan benar. Keempat, pengumpulan data penelitian. Pada buku ini akan dijelaskan mengenai menentukan sampel penelitian, alat/instrument pengumpul data, dan pengujian instrument penelitian yang meliputi uraian untuk mengukur validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda. Dengan memahami sampling penelitian dan instrumen pengumpul data, peneliti akan mampu menentukan subjek penelitian yang tepat, serta memilih instrumen yang tepat untuk mengumpulkan data sesuai dengan masalah penelitian yang ingin ketahui jawabannya.
Membangun Disiplin Siswa Melalui Keteladanan Guru
Membangun Disiplin Siswa Melalui Keteladanan Guru
Hot

Membangun Disiplin Siswa Melalui Keteladanan Guru

Proses pelaksanaan pendidikan melibatkan banyak elemen di dalamnya, salah satunya adalah guru atau pendidik. Bagi seorang guru, menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya adalah mutlak dan tidak bisa di tinggalkan karena itulah jalan satu-satunya untuk menciptakan anak didik yang unggul dan handal. Kedispilinan menjadi faktor penting dalam kesuksesan seseorang. Oleh karenanya kedisiplinan perlu dipupuk sejak dini. Masalahnya adalah seringkali siswa di sekolah dasar kurang disiplin dalam menjalankan kegiatannya sehari-hari. Hal ini menegaskan bahwa diperlukan sebuah teladan untuk siswa agar mampu ditiru dalam berdisiplin dalam kegiatan sehari-hari. Buku ini akan membahas implikasi keteladanan guru terhadap perilaku disiplin peserta didik. Pentingnya sebuah keteladanan bagi seorang guru adalah untuk menjadi pigur peserta didik dan juga agar menjadi guru yang berkualitas. Baik dari segi sikap, tindakan, tutur kata, dan kepribadianyang di perlihatkan dan di terapkan oleh guru di sekolah sehingga akan membentuk watak dan perilaku yang baik pula pada peserta didik. Menjadi guru yang mampu memberikan keteladanan-keteladanan yang baik, sesuai yang yang di ajarkan agama Islam, sehingga dari keteladanan inilah akan memancarkan kewibawaan-kewibawaan yang luhur dan mulia yang dapat diteladani oleh peserta didik.
Manajemen Strategis Peningkatan Mutu Pendidikan Islam:  Kajian Empiris Lembaga Pendidikan Pesantren
Manajemen Strategis Peningkatan Mutu Pendidikan Islam:  Kajian Empiris Lembaga Pendidikan Pesantren

Manajemen Strategis Peningkatan Mutu Pendidikan Islam: Kajian Empiris Lembaga Pendidikan Pesantren

Perjalanan sebuah lembaga pendidikan pesantren, terlebih bagi lembaga pesantren sekelas middle low, tentu dalam mempertahankan eksistensinya bukanlah sebuah perjuangan yang sederhana. Sebagai lembaga pesantren yang bukan masuk dalam kategori pesantren-pesantren besar dan ternama di tanah air, maka kemampuan bertahan dan kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren merupakan hal hal istimewa. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia dalam konteks pendidikan agama bagi anak bangsa, memiliki gaya yang khas yang sangat mencolok perbedaannya. Pertama, peranan seorang pimpinan dan sesepuh pondok pesantren. Pimpinan pesantren adalah kiai yang berada pada jajaran sesepuh yang biasanya secara genetik adalah pendiri atau keturunnya, yang dinobatkan oleh entitas pesantren tersebut sebagai pimpinan umum, memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan lembaga pesantren. Adapun sesepuh adalah mereka yang setingkat dengan pimpinan dan dituakan namun bisa jadi lebih muda atau merupakan menantu, juga memiliki peran yang kuat dalam menentukan keberhasilan perjalanan manajemen strategis. Kedua, pihak dewan kiai, memiliki peran sebagai aktor dan pelaksana dilapangan yang melakukan serta mengatur manajemen yang dilakukan. Ketiga, pihak yayasan, kalangan ini memiliki peran penting sebagai pihak yang memberikan dukungan baik moril maupun materil, mengingat yayasan adalah lembaga formal yang sah dan memiliki dasar hukum di negara Indonesia, sehingga memiliki hak akses atas fasilitas baik fasilitas masyarakat ataupun milik pemerintah. Keempat, santri, tentu saja santri ini berlaku sebagai subjek dan juga objek dalam pelaksanaan manajemen strategis. Kelima, wali santri atau orang tua memiliki peran kuat dengan dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepada pesantren. Keenam, masyarakat, komponen terakhir inilah yang dalam skala makro berkontribusi sebagai pihak ekstrenal namun juga berperan sangat kuat akan tercapainya sebuah tujuan manajerial.
Landasan Pendidikan
Landasan Pendidikan

Landasan Pendidikan

Landasan pendidikan mengacu pada praktik dan kebijakan pendidikan, serta studi analisis kritis. Ilmu pendidikan adalah teori sistematis tentang apa yang benar-benar diajarkan kepada siswa agar mereka dapat mencapai kecerdasan. Pendidikan selalu dimulai dengan langkah-langkah yang memungkinkan setiap individu untuk mengembangkan potensinya sendiri, menunjukkan sikap yang positif, dan berperilaku dengan baik di lingkungan tempat anak beraktivitas. Pendidikan dimulai dari keluarga atau individu yang belum mandiri dan kemudian berkembang di lingkungan formal dan atau non formal. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 mengamanahkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Buku ini merupakan karya yang dapat menambah wawasan pembaca, khususnya bagi mereka yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik maupun tenaga kependidikan. Kajian dalam buku ini dimulai dari Hakikat Manusia dan Dimensi Kemanusiaan, Hakikat Pendidikan, Unsur-Unsur Pendidikan, Landasan Filosofis, Psikologis, Historis, Sosio Kultural, Yuridis, dan Aliran Klasik serta Gerakan Pembaharuan Pendidikan.
Pluralisme Perspektif Syakur Yasin Dalam Pendidikan Islam
Pluralisme Perspektif Syakur Yasin Dalam Pendidikan Islam
Hot

Pluralisme Perspektif Syakur Yasin Dalam Pendidikan Islam

Perbedaan suku, agama, warna kulit, dan antar golongan sebagai kondisi nyata yang diwarisi turun temurun, merupakan unsur-unsur kekayaan yang mewarnai khasanah budaya bangsa dapat menjadi gejala positif, tetapi juga dapat menjadi fenomena yang menakutkan, sekaligus ancaman potensial bagi eksistensi bangsa dan menipisnya rasa nasionalisme. Dengan adanya perbedaan tersebut bisa memunculkan pemahaman tentang konsep pluralisme dalam pendidikan Islam, khususnya seperti yang dikemukakan Buya Syakur Yasin. Keunikan pemikiran Buya Syakur Yasin tentang pluralisme adalah realita kehidupan di dunia ini menunjukan kemajemukan dan aneka ragam suku bangsa, warna kulit, bahasa, dan agama yang bebeda-beda mendapat pengakuan dari Allah sebagai realita. Pluralisme juga dalam pemikirannya merupakan pertemuan kesepakatan atau komitmen antar warga (Encounter of Commitment) dalam paham pluralisme tidak berarti seseorang harus meninggalkan agama atau keyakinannya, karena substansi pluralisme adalah bertemunya suatu kesepakatan yang sinergis antara yang satu dengan yang lainnya. Pluralisme menggabungkan kesadaran sosial di samping pemahaman teologis. Gagasan bahwa masyarakat hidup dalam masyarakat majemuk dengan aspek keberagaman agama, budaya, suku, dan lainnya, antara lain, terpengaruh oleh hal ini. Pendidikan Islam formal dan informal, menurut Buya Syakur, menjadi jembatan bagi peserta didik untuk mengembangkan nilai-nilai inklusif atau pluralistik. Pendidikan Islam terutama didasarkan pada ajaran Alquran. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mengedepankan etika sosial agar pesan humanistik yang terdapat dalam kitab suci dapat menjadi model interaksi sosial yang santun.
Sepenggal Kisah: Antologi Cerpen Anak
Sepenggal Kisah: Antologi Cerpen Anak

Sepenggal Kisah: Antologi Cerpen Anak

Buku ini menceritakan kisah-kisah inspiratif bagi anak-anak yang di susun dengan kalimat yang sederhana. Keanekaragaman latar belakang penulis membuat tema yang disajikan dalam buku ini juga beraneka ragam, karenanya buku ini akan menarik untuk di baca. Antologi cerpen ini, berisi kumpulan karya yang sangat variatif. Tentu, hal ini dipengaruhi oleh latar belakang masing-masing penulis yang juga berbeda-beda. Ide penulisan antologi cerpen ini sesungguhnya sangat sederhana. Berangkat dari refleksi dalam setiap aktifitas keseharian para penulis. Banyak hal yang bisa diramu dan diuraikan melalui rangkaian kata-kata untuk menjadi sebuah karya. Beragam tema cerita disajikan dalam buku Antologi Cerpen ini. Kumpulan cerita yang sederhana, namun tentu syarat akan makna. Tentu, pembaca, dengan caranya masing-masing memiliki kebebasan dalam menikmati buku ini.
Buku Ajar Geometri Analitik
Buku Ajar Geometri Analitik

Buku Ajar Geometri Analitik

Buku ini memberikan pemahaman yang ringkas, tetapi mendalam dalam mempelajari materi Geometri Analitik, juga sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas dan memperkaya khasanah kematematikaan terutama dalam bidang Geometri Analitik